Prudential

Prudential

Sunday, January 13, 2013



FAKTA KEHIDUPAN
  1. Setiap orang bisa SAKIT dan pasti akan TUA atau MATI. Tahukah Anda KAPAN resiko itu terjadi?
  2. Meninggalnya pencari nafkah berakibat hilangnya sumber pendapatan bagi keluarga. Mereka butuh WAKTU untuk MENYESUAIKAN DIRI dengan kondisi Baru.
  3. Bertambahnya usia, berarti berkurangnya kesehatan dan penghasilan. Dengan demikian perlu adanya JAMINAN KEUANGAN untuk hari tua.
  4. Menurut WHO, 80% orang meninggal karena PENYAKIT KRITIS seperti kanker, serangan jantung, stroke, dll.

RESIKO KEHIDUPAN selalu menempel pada kita layaknya PERMAINAN ULAR TANGGA. Siapkah Anda menghadapinya??? 

Risiko (kemungkinan timbulnya kerugian atau kerusakan) tidak dapat dihindari, tetapi dampak risiko tersebut dapat diminimalisir. Risiko dapat diminimalisir dengan banyak cara. Perhatikan cara-cara mengelola risiko dibawah ini:
  1. Menghindari Risiko. Metode “Mengendalikan Risiko“ dapat dilakukan dengan cara mengurangi frekuensi dan dampak dari kerugian yang mungkin timbul.

    Seorang pria yang khawatir dengan kanker paru-paru akibat kebiasaannya merokok dapat menghindarinya dengan cara menghentikan kebiasaan tersebut.
  2. Mengendalikan Risiko. Metode “Mengendalikan Risiko“ dapat dilakukan dengan cara mengurangi frekuensi dan dampak dari kerugian yang mungkin timbul.

    Seorang pengendara motor harus menggunakan helm dan merawat motornya secara berkala,  untuk mengendalikan  kerugian yang mungkin timbul.
  3. Menerima Risiko. Menerima Risiko dilakukan dengan mempertahankan risiko yang ada.

    Seorang mandor di pabrik kimia mungkin tidak merasa perlu untuk membeli asuransi kesehatan atau jiwa karena berpikir dapat menanggung kerugian yang muncul apabila kecelakaan terjadi.
  4. Mengalihkan Risiko. Mengalihkan risiko dapat dilakukan dengan cara mentransfer risiko dari seorang individu ke perusahaan.

    Khawatir apabila ia kehilangan kemampuan untuk menghasilkan pendapatan karena meninggal dunia atau kecelakaan, seorang kepala keluarga akan mengasuransikan jiwanya (melakukan transfer risiko ke perusahaan asuransi jiwa) dengan tujuan menyelamatkan keluarganya dari penderitaan dan kemiskinan di kemudian hari.


Asuransi Jiwa mengelola risiko dengan cara:
•    Memindahkan dampak kerugian dari individu kepada grup;
•    Membagi kerugian yang dialami oleh individu tersebut kepada seluruh anggota grup.  

Ilustrasi bagaimana cara Asuransi Jiwa bekerja adalah sebagai berikut:

Kita asumsikan ada 1.000 orang yang berusia 50 tahun dan dalam keadaan yang sehat. Namun perkiraannya, 10 orang mungkin akan meninggal dunia tahun ini.

Misalnya saja, nilai ekonomis kerugian yang ditanggung oleh satu keluarga yang ditinggalkan adalah sekitar Rp 200.000.000,- Jadi total kerugian 10 keluarga sekitar Rp 2.000.000.000,-

Bila setiap orang dari grup tersebut menyumbang Rp 5.000.000 per tahun untuk dana bersama, maka dana yang terkumpul adalah sebesar Rp 5.000.000.000 per tahun. Jumlah tersebut tentu cukup untuk membayar Rp 200.000.000 kepada setiap keluarga yang ditinggalkan.

Artinya, risiko yang dihadapi oleh 10 orang tadi disebar ke 1.000 orang yang tergabung di dalam grup tersebut. 

Prinsip ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Maidah ayat 2, yang artinya: 
“Dan saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan dan jangan saling tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”

Allah berfirman dalam surat Al Hasyr: 18, yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (masa depan) dan bertaqwalah kamu kepada Allah. Sesunguhnya Allah Maha mengetahui apa yang engkau kerjakan”. 

Jelas sekali dalam ayat ini kita diperintahkan untuk merencanakan apa yang akan kita perbuat untuk masa depan.

Dalam Al Qur’an, surat Yusuf :43-49, Allah menggambarkan contoh usaha manusia membentuk sistem perlindungan menghadapai kemungkinan yang buruk di masa yang akan datang.

Secara ringkas, ayat ini bercerita tentang pertanyaan raja mesir tentang mimpinya kepada Nabi Yusuf. Yang mana raja Mesir bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus, dan dia juga melihat tujuh tangkai gandum yang hijau berbuah serta tujuh tangkai yang merah mengering tidak berbuah.

Nabi Yusuf dalam hal ini menjawab supaya kamu bertanam tujuh tahun dan dari hasilnya hendaklah disimpan sebagian. Kemudian sesudah itu akan datang tujuh tahun yang amat sulit, yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapapi masa sulit tersebut, kecuali sedikit dari apa yang disimpan.

Sangat jelas dalam ayat ini kita dianjurkan untuk berusaha menjaga kelangsungan kehidupan dengan melindungi kemungkinan terjadinya keadaan yang buruk. Dan sangat jelas ayat diatas menyatakan bahwa berasurnasi tidak bertentangan dengan takdir, bahkan Allah menganjurkan adanya upaya-upaya menuju kepada perencanaan masa depan dengan sistem proteksi yang dikenal dalam mekanisme asuransi.

Jadi, SEGERA dan jangan tunda hingga esok hari untuk mengantisipasi resiko di atas dengan  ASURANSI JIWA. 

Allah berfirman,
” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Munafiquun; 63)

Dan hendaklah takut orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunanyang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya…( QS. An Nisa: 9)